Tauhid dan Moral sebagai Karakter Utama dalam Pendidikan Islam

A.    TAUHID DAN MORAL DALAM ISLAM

1.      Tauhid

Dilihat dari segi Etimologis, tauhid berarti “KeesaanAllah”. Tauhid adalah keyakinan akan Esa-nya ketuhanan Allah SWT, dan ikhlasnya peribadatan hanya kepada-Nya, dan keyakinan atas nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

a)      Kepercayaan kepada Tuhan dan mentauhidkan Tuhan

“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi     dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”. (QS. Al ‘Ankabut : 61)

Berdasarkan ayat di atas Taufik Rahman (2009:56) menjelaskan bahwa keesaan Allah dalam “penyembahan” (ibadah) menghendaki dua hal, yaitu :

1)      Pertama, tidak boleh mengakui ketuhanan selain Allah Swt dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun.

2)      Kedua, tuntutan kesesuaian dalam peribadahan dengan aturan - aturan yang telah dijelaskan oleh-Nya.

b)     Tauhid dan Kemerdekaan

Allah menciptakan setiap manusia dengan inisiatif untuk berbuat dan mengaktualisasikan potensi dirinya. Ketundukan kepada Allah tidak berarti menghilangkan keinginan manusia untuk     melakukan perbuatan baik dan mencegahnya dari perbuatan tercela.

c)      Syirik dan Musyrik

Kata syirik ini berasal dari kata "syaraka" yang berarti "mencampurkan dua atau lebih benda atau hal yang tidak sama menjadi seolah-olah sama". Orang yang mencampurkannya disebut musyrik. Lawan "syaraka" ialah "khalasha" artinya memurnikan. Orang yang khalasa disebut khalish. Berkaitan dengan   syirik   ini, Taufik   Rahman (2009:58) menguraikan  beberapa  bentuk  kemusyrikan, diantaranya :

1)      Pertama,memakai  cincin,  keris,  azimat,  atau  benda  lainnya  dengan  keyakinan bahwa  benda-benda  tersebut  dapat  menolak bala  atau  bencana  yang akan  menimpa  mereka.

2)      Kedua, meminta perlindungan kepada selain Allah, misalkan pergi ke dukun untuk meminta bantuan kepada jin atau setan atau iblis.

Hal ini merupakan dosa besar dan termasuk tindakan yang dianggap menyekutukan Dia dengan sesuatu karena secara sadar.

d)     Muhammad sebagai manifestasi Tauhid yang paripurna

 "Sesungguhnya Illah kamu Illah Yang Satu, tiada Illah selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha   Penyayang." (Q.S,   alBaqarah:163). Untuk dapat menerima ayat tersebut sebagai firman Allah, maka manusia haruslah mempercayai kerasulan Muhammad SAW. sebagai pembawa firman Allah. Keyakinan yang bulat akan integritas Muhammad merupakan syarat mutlak untuk menerima al-Qur'an sebagai firman Allah.  Oleh karena itu sesudah meyakini kalimat "Laa ilaha illa Allah" seorang Muslim harus pula meyakini "Muhammad Rasul Allah" sebagai komitmen kedua. Kedua kalimat ini dikenal dengan nama "Syahadatain" atau dua kalimat kesaksian.  Kalimat kedua merupakan jembatan hati antara setiap Muslim dengan al-Qur'an.

2.      Konsep Moral

Menurut Abdul Munir Mulkan (1993) moral atau akhlak dalam pandangan barat semua hal   yang berhubungan dengan keyakinan tidaklah relevan dengan kehidupan, termasuk penyembahan Tuhan. Akibatnya, budaya lokal masyarakat muslim terkontaminasi dengan budaya barat, dan pada akhirnya budaya lokal mengalami kegoncangan dan semakin dekat dengan gaya hidup barat.

a)      Pengertian Moral atau Akhlak

Akhlaq (Kamus al-Muhith) berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata “khuluq” (خلوق) secara Bahasa kata ini memiliki arti perangai atau yang mencakup diantaranya sikap, perilaku, sopan, tabi’at, etika, karakter, kepribadian, dan lain-lain. Sedangkan menurut Al Firuzabadi akhlak adalah watak, tabi’at, keberanian, dan agama.

b)     Dasar-dasar ilmu akhlak

1)      Al-Qur’an :

sebagai dasar (rujukan) Ilmu Akhlak yang pertama, hal ini dinilai karena ke ontetikannya yang lebih tinggi, dibandingkan dengan dasar-dasar yang lain. Mengingat al-Qur’an merupakan firman Tuhan, jadi tidak ada keraguan untuk dijadikan sebagai dasar ilmu.

2)      Al-Hadits :

Asbabul Wurud suatu hadits berbeda-beda. Ada hadits yang dikeluarkan oleh Nabi  karena seorang sahabat bertanya kepadanya, karena Nabi menegur seorang sahabat,   karena peringatan dan penjelasan Nabi terhadap al-Qur’an. Dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an dan al-Hadis berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT.

3)      Al-Aqlu (Akal)

Salah satu angerah Tuhan kepada manusia adalah akal. Dengannya manusia dapat berfikir secara rasional, membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Mereka yang dapat  selamat dari kesesatan adalah yang senantiasa mempergunakan akalnya dengan baik.

c)      Ruang Lingkup Ilmu Akhlak

Ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Akhlak sebagai suatu disiplin ilmu agama sudah sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti tafsir, tauhid, fiqh, sejarah islam, dan lain-lain.

3.      Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid

Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid merupakan hubungan yang bersifat berdekatan. Menurut Ibn Maskawih Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan. Ilmu Tauhid adalah Ilmu yang membahas tentang cara-cara meng-Esakan Tuhan sebagai salah satu sifat yang terpenting.

4.      Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Pendidikan

Pendidikan Islam merupakan sarana yang mengantarkan anak didik agar menjadi orang yang berakhlak. Bertolak dari rumusan tujuan pendidikan tersebut, maka seluruh aspek pendidikan lainnya, yakni materi pelajaran, guru, metode, sarana dan sebagainya harus berdasarkan ajaran Islam.


B.    PENDIDIKAN TAUHID DALAM MEMBANGUN KARAKTER

1.      Materi Pendidikan Tauhid

Menurut ulama salafiyah, seperti diungkapkan oleh Abdullahbin Abdul Muhsin (1995) bahwa pembahasan materi ketauhidan terbagi menjadi tiga bagian yakni tentang  tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, dan tauhid Ubudiyah. Konsep yang penyusun gunakan ialah konsep Yunahar Ilyas yang membagi materi ketauhidan menjadi empat, yaitu :

1)      Ilahiyat                                    3) Ruhaniyat

2)      Nubuwat                                  4) Sam’iyyat

2.      Metode Pendidikan Tauhid

:لكل شیئ طریق وطریقة الجنة العلم )رواه الدیلمي

(Artinya: “Bagi   segala   sesuatu   itu   ada   caranya (metodenya) dan metode masuk surga adalah ilmu”. (HR. Dailami)

Demikian pula dalam menyampaikan pendidikan tauhid dalamkeluarga harus  pula  menggunakan  metode  atau  cara  yang  dapat dilakukan oleh para orang tua, dan dapat dengan mudah dikondisikan dalam lingkungan keluarga. Maka yang dimaksud metode Pendidikan tauhid dalam keluarga adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan tujuan pendidikan tauhid dalam keluarga. Metode-metode yang digunakan untuk pendidikan tauhid dalam keluarga, yaitu:

v  Kalimat Tauhid

Sunnah Muakkad hukumnya untuk mengumandangkan azan dan iqomat kepada bayi yang baru lahir. Mendidik anak dengan kalimat tauhid, yang akan mengikat jiwanya dan akan berpengaruh bagi perkembangan anak di masa yang akan datang.

v  Keteladanan

Al-Quran sebagai sumber pendidikan Islam, juga pendidikan tauhid dalam keluarga telah memberikan statemen tentang keteladanan sebanyak tiga kali yakni dalam surat Al-Mumtahanah ayat 4, ayat 6, dan surat Al-Ahzab ayat 21. Bagi para orang tua tidak hanya cukup menjadikan dirinya sebagai teladan anak-anaknya, namun juga harus mengarahkan dirinya serta anak - anaknya untuk meneladani keteladanan Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat beliau yang memiliki kepribadian tauhid yang mantap dan sudah terbukti.

v  Pembiasaan

Ketauhidan anak akan tumbuh melalui latihan-latihan dan pembiasaan yang diterimanya.  Biasanya konsepsi-konsepsi yang nyata, tentang Tuhan, malaikat, jin, surga, neraka, bentuk dan gambarannya berdasarkan informasi yang pernah ia dengar dan dilihatnya.

v  Nasehat

Nasehat  ini  harus  dimulai  juga  sejak  anak  masih  kecil, selain sebagai sarana pendidikan tauhid juga sebagai dorongan dan motivasi anak untuk belajar berbicara. ketika ia mendengarkan sebuah nasehat ia akan merekam setiap kosa kata yang ia dengar dalam memorinya, serta akalnya juga mencoba memahami setiap kosa kata yang ia dengar. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan orang tua haruslah sederhana dan jelas.

v  Pengawasan

Maksud dari pengawasan ialah orang tua memberikan teguran jika anaknya melakukan kesalahan atau perbuatan yang dapat mengarahkannya kepada pengingkaran ketauhidan. Pengawasan juga bermakna bahwa orang tua siap memberikan bantuan jika anak memerlukan penjelasan serta bantuan untuk memahami dan melatih dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan kepadanya.


C.    PENDIDIKAN MORAL DALAM MEMBANGUN KARAKTER

        Secara etimologis, istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, yaitu kharaseein, yang awalnya mengandung arti mengukir tanda di kertas atau lilin yang berfungsi sebagai pembeda  (Bohlin, 2005). Dengan demikian, karakter dapat juga menunjukkan sekumpulan kualitas  atau karakteristik yang dapat digunakan untuk membedakan diri seseorang dengan orang lain. Perkembangan berikutnya, pengetahuan tentang karakter banyak dipelajari pada ilmu-ilmu sosial.  Dalam filsafat misalnya, istilah karakter biasa digunakan untuk merujuk dimensi moral seseorang. Karakter dalam hubungan interpersonal atau hubungan dengan orang lain.  Contohnya, kasih sayang, empati, loyal, membantu dan peduli dengan orang lain (sifat-sifat feminis). Pengembangan sifat-sifat dalam diri atau intrapersonal, contohnya, disiplin, jujur, bertanggung jawab, pantang menyerah dan percaya diri (sifat-sifat maskulin).


D.     TAUHID DAN MORAL SEBAGAI KARAKTER UTAMA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Sebagai sebuah pendidikan, Pendidikan tauhid harus memenuhi syarat-syarat Pendidikan, yaitu:

1)      Pendidikan tauhid diajarkan oleh pendidik yang punya nilai-nilai tauhid pada peserta didik

2)      Tujuan pendidikan tauhid adalah menegakan tuntutan tauhid yakni menjadikan muara seluruh amal sebagai pengabdian tulus hanya kepada Allah SWT.

3)      Pendidikan tauhid dilakukan secara sengaja dan terencana dalam bentuk yang tegas

Evaluasi dilakukan pendidik untuk melihat perubahan perilaku pesera didik.


E.   Kesimpulan

Jadi, berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tauhid dan moral merupakan materi utama dalam membangun karakter seorang anak. Mentauhidkan Allah adalah ajaran pokok yang disampaikan oleh setiap Nabi dan Rasul, yang diutus oleh Allah sejak awal sejarah kemanusiaan. Nilai kemanusiaan yang paling utama ialah kemerdekaan. Kemerdekaanlah satu-satunya nilai yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain.

Sementara, Pendidikan moral atau akhlak adalah kunci untuk perbaikan sosial dan kemajuan peradaban bangsa yang menjunjung tinggi integritas nilai dan kemanusiaan. Harapan dari Pendidikan berkarakter moral dan tauhid adalah tercapainya keseimbangan antara pengetahuan dan moral. Pendidikan berkarakter moral dan tauhid tentu memerlukan figur teladan sebagai role model untuk menegakkan nilai atau aturan yang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Pendidikan" Karya Ki Hajar Dewantara

Bentuk dan Contoh Kompensasi Non Finansial

Program Studi Pendidikan Masyarakat